Jika Anda merencanakan perjalanan ke Yogyakarta menikmati destinasi wisata yang ada disana, jantung budaya pulau Jawa mungkin akan terlihat. Yogyakarta  adalah pusat seni dan bahasa tradisional dan itu adalah basis biasa dari mana para pelancong mengunjungi UNESCO World Heritage terdaftar Candi Borobodur dan Prambanan. Jika Anda suka makan, Anda ingin menyisihkan sedikit waktu untuk menjelajahi budaya makanan kota ini bisa dengan kendaraan umum,berjalan kaki,atau merental mobil. Tradisional, unik dan benar-benar lezat, berikut adalah 4 dari hidangan Yogyakarta yang paling terkenal untuk diburu!

1. Kopi arang di Kopi Joss Lik Man

Ketika di Jawa, Anda minum kopi. Minuman lokal disajikan kuat dan hitam dan jika Anda ingin mencoba yang berbeda  dan menikmatinya seperti orang-orang lokal disana, Anda akan meminta segumpal arang panas yang membakar untuk ditambahkan ke gelas Anda. Dikatakan menambahkan arang ke kopi mengeluarkan keasaman – kami tidak berpikir itu mengubah rasa secara dramatis (Anda memancing arang setelah sekitar satu menit), tetapi ada baiknya memesan untuk melihat percikan berbusa saat arang menghampiri kopi.

2. Es Dawet di warung Mbah Hari di Pasar Beringharjo

Terletak di sudut pasar Beringharjo, duduk di bangku plastik rendah ada penjual bernama Mbah Hari yang berusia 75 tahun. Mbah hari berjualan es dawet di pinggir jalan – satu diisi dengan sirup gula aren dan nangka, yang lain dengan santan. Di sebelah mereka ada bak besar yang diisi penuh dengan beras berwarna cerah dan jeli tepung tapioka. Gabungkan bahan-bahan ini dan Anda dapat memiliki es-cara yang sempurna untuk mendinginkan setelah menjelajahi lorong-lorong sempit pasar.

3. Gudeg Mbah Lindu

Hidangan paling terkenal di Jogja tidak diragukan lagi adalah gudeg, nangka mentah yang dimasak dengan gula aren, santan, daun jati, dan rempah-rempah. Makan makanan khas lokal ini di warung Mbah Lindu yang telah menyajikan hidangan ini sejak tahun 1940. Putrinya sekarang menjalankan warung itu, tetapi Mbah Lindu masih bangun setiap hari pada pukul 3:00 pagi untuk memasak gudeg meski berusia sembilan puluh delapan tahun.

Gudeg disajikan dengan nasi, daging sapi krecek – dimasak dalam cabai, tempe dan sering telur rebus gula aren. Satu seteguk gudeg yang manis dan lembab bersama dengan nasi putih dan krecek yang sedikit agar-agar, akan cukup bagi Anda untuk benar-benar jatuh cinta pada hidangan tradisional Jawa ini. Sampai di sini lebih awal, Anda akan beruntung jika ada gudeg yang tersisa pada jam 9:00 pagi.

4. Sate Klathak Pak Pong

Jika Anda tidak keberatan bepergian untuk makanan, naiklah ke kendaraan umum atau merental mobil, dan berkendaralah 30 menit dari pusat Jogja untuk mencoba salah satu makanan khas kota: sate klathak-sate kambing. Semua penjagalan dan memasak berlangsung tepat di pinggir jalan dengan aroma daging panggang memabukkan memenuhi udara.

Sate Klathak Pak Pong menggunakan jari-jari sepeda logam sebagai tusuk sate, untuk memastikan kematangan daging. Berbeda dengan sate yang biasa ditemukan di belahan dunia ini, sate klathak hanya dibumbui dengan garam dan merica dan disajikan dengan sambal kacang. Dagingnya luar biasa – empuk dan penuh rasa. Setelah mencabut daging kambing untuk sate, tulang dan jeroan digunakan untuk membuat rebusan tulang tengkleng kambing. Jika Anda memiliki kecenderungan untuk mengunyah tulang rusuk dan mengisap sumsum tulang, Anda harus memesan hidangan ini.