Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak padam. Alih-alih menurun, hotspot semakin banyak menyebar di berbagai daerah lain. Jambi adalah salah satu provinsi yang telah menjadi korban dari tangan pemberi makan manusia. Untuk memadamkan api, doa juga harus dilakukan secara optimal.

Saat Rasulullah SAW Meminta Hujan

Dikutip dari artikel wahhedbaly.com Hujan menjadi cara yang efektif untuk memadamkan api. Sebagai makhluk yang lemah, kita harus meminta kepada Allah SWT, pemilik hujan, untuk membiarkan air turun dari langit.

Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana meminta hujan. Suatu hari, Nabi (SAW) berjanji kepada teman-temannya untuk pergi ke lapangan. Rasulullah keluar ketika matahari terbit. Dengan ta wadhu, rendah hati dan khusyuk, dia naik ke mimbar.

Rasulullah SAW juga memuji Allah, memuji dan dimuliakan. Di antara isi khotbah yang disampaikan dan doa yang ditawarkan oleh Na bi SAW ada: “… Ya Tuhan, tidak ada Tuhan yang memiliki hak untuk beribadah kecuali Anda.

Anda Mahakaya, sementara kami adalah orang-orang yang membutuhkan. Hujan dan buat apa yang kau bawa turunkan kami kekuatan dan cukup sampai saat ini. “

Dia mengangkat tangannya. Nabi Saw membungkuk dan berdoa. Dia mengangkat tangannya hingga lengannya tampak putih. Kemudian dia memunggungi teman-temannya dan menghadap kiblat.

Pada saat itu, selendang ada di belakang. Sementara itu, hadapi kiblat lagi dengan membuat sisi kanan di sisi kiri dan sisi kiri di sisi kanan.

Selendang miliknya, yang semula di punggungnya, dipindahkan ke posisi perut. Setelah berada dalam posisi perut, dia menempatkannya di depan kiblat. Begitu juga dengan posisi teman. Dia turun, lalu berdoa kepada dua rakaat dengan teman-temannya sebagai doa dari Id. Tanpa ajakan sholat dan iqamah dan tidak ada banding. Pada dua rakaat dia memperluas bacaannya. Pada rak’ah pertama, ia membaca Sura al-Fatihah dan Sura al-A’la. Saat ini, dalam rakaat kedua, ia membacakan surah al-Ghasiyyah.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga berdoa untuk hujan Jumat. Doa itu dipersembahkan oleh nabi Muhammad di atas kuda-kuda. “Ya Allah, bantu kami dengan air hujan! Ya Allah, tolonglah kami dengan air hujan! Ya Allah, tolonglah kami dengan air hujan! Ya Allah, beri kami air hujan. Ya Allah, beri kami air hujan!

Minimnya Rasulullah SAW juga meminta hujan di stand Madinah hanya untuk meminta hujan. Tidak dilakukan di sidang.

Cara lain, nabi Saw meminta hujan duduk bersila di masjid. Dia mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah SWT. Di antara doa-doa yang ia sebutkan dalam hadits adalah: “Ya Allah, turunkan hujan secara merata, pupuk, akurat, langsung dan sesegera mungkin tanpa mencemari dan menguntungkan, tanpa membawa bahaya Mara dan kemudharatan”.

Doa hujan juga dibacakan di sisi pohon zaitun di dekat az-Zaura. Lokasinya berada di luar pintu masjid yang dinamai Babus Salam. Ada sekitar fondasi batu di sisi kanan luar masjid.

Nabi juga meminta hujan di beberapa perang yang terjadi. Pada saat itu, kaum musyrik mendahului pasukan Muslim dalam menduduki musim semi. Bahkan orang Muslim merasa haus. Mereka kemudian mengeluh kepada nabi Muhammad. Beberapa orang munafik berkata: “Jika dia benar-benar seorang nabi, dia pasti akan meminta hujan kepada umatnya seperti Musa untuk umatnya”.

Kata-kata itu sampai ke Nabi. Dia berkata: “Apakah mereka benar-benar mengatakannya? Semoga Tuhanmu membuatmu hujan”.

Rasulullah SAW merentangkan tangannya dan berdoa. Hanya ketika dia mengembalikan tangannya ke posisi semula dan menyelesaikan doanya, awan menjadi hitam. Lembah itu penuh dengan air hujan. Teman-teman juga minum air hujan hingga mereka haus.

Doa nabi dalam meminta hujan sering dijawab. Selalu hujan ketika dia memintanya. Rasulullah SAW bahkan meninggalkan rumah untuk menikmati kematian air hujan yang diberikan oleh Allah SWT. Ini diriwayatkan oleh Imam sebagai Syafi’i Rahimahullah tentang hadits asli Yazid bin al-Had.

Nabi SAW, jika aliran air mengalir, berkata: “Keluarlah bersama kami (ini adalah air) yang Allah telah jadikan sebagai sarana penyucian.” Jadi mari kita bersihkan dengan air dan memuji Allah SWT dengan hadiahnya. “

Sumber : doa hujan reda