Saat Ini Pendidikan Karakter Perlu Diperkuat Sejak Dini

Budaya perkelahian antarpelajar masih menjadi masalah klasik. Masalah prilaku murid menjadi semakin kompleks.

Ada murid yang berani mempermalukan gurunya di kelas, menyuruh berkelahi, sampai memarahi guru dan menyuruh guru berkelahi. Adapula yang menyiksa gurunya sampai tewas.

Fenomena itu merisaukan sebab generasi ketika ini menilai masa mendatang bangsa. Penguatan edukasi karakter seakan sudah luntur dari dunia pendidikan.

Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Hamdi Muluk mengatakan, penyebab lunturnya karakter atau kebiasaan siswa memuliakan guru adalahsuatu kelalaian.

Di tingkat edukasi dasar, orangtua lebih cemas anak-anaknya tidak cepat-cepat menguasai keterampilan skolastis laksana membaca, berhitung, matematika, bahasa Inggris, dan seterusnya dirasakan tidak maju. Sumber : sekolahan.co.id/

“Kurikulum dasar kita, baik guna tingkat PAUD, TK dan SD ketika ini telah dijejali supaya supaya anak-anak ini cepat-cepat menguasai keterampilan skolastis ini. Karena bila tidak seperti tersebut tentunya orangtua merasa khawatir bila anaknya tidak jago keterampilan skolastik ini,” tutur Hamdi, di Jakarta.

Padahal, menurut keterangan dari dia, di tingkat edukasi dasar yang diperluklan ialah mengajarkan nilai-nilai laksana integritas yang di dalamnya berisi kejujuran, bertanggung jawab, konsisten, nilai-nilai kemandirian, dan nilai-nilai persatuan yang mengajarkan toleransi, hormat-menghormati, sopan santun untuk yang lebih tua.

“Pendidikan nilai-nilai inilah sebetulnya yang bakal membekali orang guna menghadapi dunia nyata, apa yang sering pun disebut sebagai life skills. Kalau nilai-nilai ini tertanam baik maka hasilnya ialah karakter kuat,” tuturnya.

Apabila karakter powerful dan telah tertanam, lanjut dia, baru mulai menguasai skill-skill skolastik laksana matematika, bahasa Inggris, kimia, biologi dan sebagainya. Itu tentunya bakal lebih mudah

Berdasarkan keterangan dari dia, orang berkarakter powerful tidak akan gampang menyerah. Orang itu akan selalu mengupayakan untuk belajar sendiri. Kalau nilai-nilai toleransi laksana hormat untuk yang lebih tua, memuliakan otoritas contohnya guru, pastinya anak-anak bakal tumbuh menjadi individu berkarakter kuat.

“Anak-anak laksana ini dikemudian hari pasti akan cepat menguasai keterampilan akademik. Saya akui bahwa sistem edukasi dasar anda ini agak kacau. Pendidikan PAUD, TK dan SD saja lebih tidak sedikit muatan akademiknya ketimbang edukasi nilai-nilai budi pekerti,” tuturnya.

Dia memberikan contoh pendidikan di negara lain. Pendidikan mula seperti TK, SD lebih tidak sedikit dengan pekerjaan “bermain” lewat ekperimen laksana olahraga ataupun kesenian.

Kegiatan tersebut diselipkan edukasi nilai-nilai laksana toleransi, sportivitas, kompetisi, hormat menghormati, persatuan dansebagainya. “Harus laksana itu, bukan justeru menjejali anak siswa yang masih kecil dengan hapalan di ruang belajar yang membosankan,” katanya.

Persoalannya, kata dia, edukasi karakter yang terpadu dengan kegiatan mengembangkan kepintaran majemuk laksana estetitka, kinetik, sosial, spiritual memerlukan sarana dan prasana yang baik serta guru-guru yang pun mengajar dengan sepenuh hati (passion), bukan sekadar lepas dari kewajban.

“Guru mesti punya kewibawaaan dan kompetensi lumayan sehingga tidak mudah diremehkan oleh murid-muridnya. Nah ini pun masalah kita, guru-guru anda kualitasnya rendah, gaji dan kehidupan eknominya pun agak morat-marit. Dengan situasi seperti tersebut bagaimana dia tampil menjadi guru yang kredibel dan berwibawa di mata muridnya? Ini pun menjadi problem sekitar ini,” ucapnya

Permasalahan lain, kata Hamdi, hal lingkungan sosial, termasuk pun di lokasi tinggal dan bahkan mungkin pun di sekolah yang telah tidak punya atau telah luntur.

“Padahal kebiasaan melihat nilai-nilai tersebut lebih urgen ketimbang keterampilan skolastik (akademik), Jadi anda tidak menghargai bila nilai-nilai tersebut tidak dihormati, laksana orangtua atau siswa yang ikut memukul guru atau saat anaknya dimarahin guru. Nilai-nilai tersebut sudah luntur menciptakan anak-anak menjadi tidak terdidik dengan baik,” katanya.

Untuk itu, sambung dia, peran keluarga, baik orang tua, kakek nenek, paman, tante dan sebagainya pun harus sadar bahwa yang lebih urgen untuk diajarkan untuk anak-anak ialah Nilai-nilai, bukan sekadar pencapaian nilai akedemis di sekolahan.

Bahkan dirinya pun menyayangkan terdapat orangtua yang justeru kasak-kusuk menggali bocoran soal, guna dikasih ke anaknya supaya meraih nilai bagus .

“Orangtua model laksana ini pun tidak benar. Tapi sedihnya fakta ini justru tidak sedikit terjadi di masayarkat kita kini ini. Sedih sekali, namun itulah kenyataannya,” tuturnya.

Terlebih, ketika ini masyarakat Indonesia merasakan krisis keteladanan. Padahal anak-anak membutuhkan role model atau sosok keteladanan guna diteladani.

Berdasarkan keterangan dari dia, orangtua diharapkan dapat memberikan teladan yang bagus untuk anaknya contohnya seperti tidak KKN, ucapannya dapat dipegang, hormat untuk otoritas, tidak memaki-maki di ruang pubik, ustaz berceramah tidak memaki-maki dan tidak meuyebar ujaran kebencian.

“Kritis boleh tapi anggun dan santun. Jadi anda krisis misal yang baik dari yang atas-atas, krisis role model. Nah institusi kerluarga dan sekolah menghadapi kendala tidak mudah. Di tengah iklim sosial anda yang laksana ini elite politik bahkan tidak mecontohkan pendikan nilai-nilai itu,” tutur Ketua Program Doktor Fakultas Psikologi UI

Untuk itu, dia bercita-cita kepada pemerintah guna serius menbenahi sumber daya insan (SDM) dan program revolusi mental tersebut secara nasional. Tidak melulu itu, program dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pun harus ikut memasifkan gerakan pendikan nilai-nilai.

“Sekolah mesti dibenahi, guru-guru jangan melulu sibuk cemas dengan nilai edukasi akademis semata. Guru mesti melatih dengan hati, kurukulum dirombak, tingkat dasar edukasi nilai dan karakter lebih berpengaruh dibanding edukasi skolastik, Sekolah mesti menggairahkan untuk siswa belajar tidak sedikit hal, life skill dan nilai-nilai itu,” tuturnya.

Untuk itu, dia menyuruh seluruh komponen ikut membina bangsa yang beradab dari bangku sekolah. Dia menyerahkan gambaran supaya pendidikan agama perlu terbit dari pola yang dogmatis.

Berdasarkan keterangan dari dia, pendidiikan agama mesti mencerahkan anak-anak guna menghargai kehidupan yang lebih demoktaris, toleran, hormat menghormati, rahmatan lil alamin. Bukan justeru dikasih ajaran kaku halal atau haram, kafir, sesat dan sebagainya yang sangat ajaran kaku.

“Ini agar anak anak tidak tumbuh menjadi anak dengan fanatisme agama yang ekstrem, sebab ini yang menjadi bibit bibit radikal teroris di masa depan. Guru-guru agama pun perlu ditatar ulang supaya dapat mengajarkan untuk muridnya nilai-nilai agama yang santun dan menghargai antarsesama umat,” tutur Muluk.

Dia bercita-cita dalam menghadapi era milenial kini ini, edukasi karakter mesti ditanamkan dalam bentuk kegiatan konkret laksana olahraga, kesenian, kegiatan kemanusiaan, program-program kreatif.

“Jangan gunakan pola indoktrinasi, anda harus kreatif mengemas pesan sesuai kemauan anak anak milenial,” katanya.

Sumber : pelajaran.co.id